Jakarta – Lupakan persiapan pemain, atau pusingnya kedua pelatih meracik rencana. Di El Clasico akhir pekan ini, mari beri simpati sedikit untuk Sanchez Martinez. Wasit duel Madrid vs Barca.

“Saya mendapat perlindungan (polisi) saat berada di rumah. Anak saya pulang cepat dari sekolah karena ada temannya yang bilang bahwa ayahnya adalah perampok.”

Kisah tersebut dituturkan mantan hakim garis La Liga, Rafa Guerrero, dalam wawancaranya dengan Bleacher Report. Di balik ingar bingar El Clasico, tingginya tensi pertandingan, dan harapan unggul yang luar biasa besar dari kedua kubu, wasit dan seluruh staff pertandingan selalu dapat tekanan luar biasa.

Tak terkecuali di akhir pekan ini. Madrid akan menjamu Barca di Santiago Bernabeu, Sabtu (23/12/2017) malam WIB.

Jose-Maria Sanchez Martinez sudah ditunjuk untuk jadi pengadil. Berusia 34 tahun, Sanchez Martinez datang dari Murcia. Buat Sanchez Martinez, laga di akhir pekan ini akan menjadi El Clasico kedua yang dia pimpin. Sebelumnya dia menjadi wasit saat Madrid unggul 2-0 atas Barca di leg kedua Piala Super Spanyol awal musim ini.

Dapat promosi memimpin pertandingan La Liga sejak 2014/2015, Sanchez Martinez sudah delapan kali memimpin pertandingan-pertandingan Barca. Hasilnya, Barca meraih lima kemenangan. Sanchez Martinez juga sudah memimpin delapan pertandingan Madrid, di mana El Real keluar sebagai pemenang di tujuh kesempatan.

Kenyataan tersebut belum-belum sudah membuat Sanchez Martinez dapat tudingan tak enak. Surat kabar El Mundo Deportivo yang ‘pro Barca’ menyebut Sanchez Martinez ‘sudah menguntungkan Real Madrid. Media sport tersebut juga menulis di headline-nya ‘Sanchez Martinez, Sebuah Kenangan Buruk dari Wasit’.

Penggiringan opini oleh media kemudian memberi efek pada suporter. Saat datang ke stadion untuk menyaksikan pertandingan, mereka sudah lebih dulu terpengaruh oleh berita-berita yang dibuat oleh media.

“Pertunjukan sebenarnya adalah para pemain. Tapi jika ada jurnalis seminggu sebelum kick off menulis tentang wasit ‘ini adalah orang yang merusak Barca musim lalu’, atau informasi yang sejenis. Itu sangat buruk karena fans membacanya dan mereka pergi ke stadion terpengaruh dengan apa yang mereka baca. Ini menyorong terjadinya kekerasan,” ungkap Rafa Guerrero.

Betapa besarnya tekanan yang diterima wasit jelang El Clasico juga dirasakan oleh Cesar Muniz Fernandez. Sudah pensiun pada 2014, Cesar Muniz Fernandez sempat memimpin tiga El Clasico.

“Penting buat Anda yang akan memimpin pertandingan itu untuk tidak menonton TV, internet, membaca koran. Anda harus melupakan itu semua. Anda harus mengisolasi diri Anda ketika berada di tengah tekanan media seperti itu. Anfa harus berkonsentrasi pada pertandingan. Anda harus punya pikiran yang jernih jika ingin membuat keputusan yang tepat,” cerita Muniz Fernandez.

Tekanan Juga Datang dari Pemain

Tekanan terbesar yang dirasakan wasit tentu saja saat pertandingan berlangsung. Para pemain di atas lapangan justru kerap memperburuk keadaan dengan beragam aksi-aksinya, mulai dari diving sampai yang provokatif.

“Tangan-tangan mereka bermain, atau terjatuh dengan sengaja. Di negara Eropa lainnya mereka akan dihukum, tapi di sini lebih ditoleransi. Pemain berpura-pura. Mereka mencoba memengaruhi wasit. Itu terkait dengan pendidikan sepakbola yang mereka punya,” ucap Guerrero.

Menurut Guerrero, pemain yang sangat lihai melakukan itu adalah Sergio Ramos. Kapten Real Madrid itu sudah mendapat 22 kartu merah dalam 12 tahun kariernya sebagai pemain di La Liga. Tak ada pemain lain punya koleksi kartu merah sebanyak Ramos.

“Sergio Ramos selalu mengatakan: ‘dia melakukannya, wasit’,” lanjut Guerrero.

(din/rin)


NO COMMENTS