London – Antonio Conte mewanti-wanti kepada pemain atau eks pemain yang ingin jadi pelatih. Bahwasanya tak mudah bisa sukses secepat Pep Guardiola atau Zinedine Zidane.

Guardiola langsung meraih treble di musim perdananya melatih Barca pada 2008 dan setelahnya adalah sejarah baik di Bayern Munich serta sekarang yang sedang dibangunnya di Manchester City.

Zidane pun setali tiga uang ketika dia ditunjuk menggantikan Rafael Benitez Januari 2016. Belum genap dua tahun melatih Real Madrid, Zidane sudah punya tujuh gelar termasuk dua trofi Liga Champions. Padahal Madrid adalah tim senior pertama yang ditangani Zidane.

Pelatih Real Madrid Zinedine Zidane (Foto: Juan Medina/REUTERS)

Wajar jika keduanya lantas jadi kiblat para pelatih muda yang belakangan ini mencuat khususnya di sepakbola Jerman. Sebut saja Julien Nagelsmann (Hoffenheim) atau Domenico Tedesco (Schalke 04), yang sudah melatih di fase awal umur 30-an.

Tapi apa yang dicapai Guardiola dan Zidane tidak bisa serta merta jadi tolak ukur. Selain keduanya melatih klub besar yang didukung kekuatan finansial, banyak faktor juga yang mempengaruhi salah satunya kualitas individu pelatih.

“Terkadang pemain yang punya karier hebat berpikir mereka bisa menjadi manajer dengan cepat. Tapi itu hal berbeda ketika masih bermain dan juga saat melatih. Sangat berbeda. Anda harus menjalani banyak pengalaman sebelum mencapai target fantastis,” ujar Conte seperti dikutip Soccernet.

“Untuk alasan ini, saya memilih memulai dari bawah sekali, dan juga merasakan yang namanya kekecewaan. Ketika saya memulai melatih, pengalaman pertama saya melatih Arezzo di Serie B, dipecat setelah sembilan laga. Lalu mereka memakai saya lagi menjelang akhir musim. Pengalaman seperti ini sangat penting untuk saya,” lanjut pria asal Italia itu.

Sebelum meraih sukses bersama Juventus (tiga gelar scudetto berurutan), melatih timnas Italia, dan menjadi juara Premier League di musim perdana melatih The Blues, Conte memang lalu-lalang di klub-klub semenjana macam Bari, Atalanta, dan Siena.

“Apakah Anda bekerja bareng para pemain terbaik di dunia atau di level bawah, selalu sulit memang mengajarkan filosofi bermain Anda.”

“Anda harus berlatih banyak dalam hal taktik, video analisis, aspek teknik, dan Anda harus mengurusi banyak hal soal mental pemain. Ini soal cara memindahkan ide dan mentalitas Anda. Sebagai pelatih, itu pekerjaan yang sangat sulit tapi saat bersamaan Anda akan sangat puas jika tim bermain sesuai keinginan,” pungkasnya.

(mrp/rin)


NO COMMENTS