Jakarta – Polemik akun Transfer Matching System (TMS) antara Persebaya Surabaya dan Bhayangkara FC telah berakhir. PSSI mengingatkan agar TMS tak dipublikasikan.

Masalah bermula saat Bhayangkara FC, yang bermain di Liga 1, menggunakan TMS milik Persebaya. Kepemilikan akun TMS tersebut sangat penting bagi klub, salah satunya untuk transparansi dan efisiensi transfer pemain.

Dalam prosesnya, polemik itu bisa diselesaikan. PSSI menyatakan Persebaya sebagai pemilik akun TMS dengan nama Persebaya Surabaya.

Kepastian itu diumumkan oleh PSSI pada Profesional Football Administration Workshop yang digelar sejak awal pekan. Persebaya pun secara resmi bisa menggunakan TMS tersebut mulai Rabu (20/12/2017).

“Workshop special TMS sudah selesai, Persebaya sudah kami undang untuk mendaftarkan ini dan sudah ada TMS baru. Artinya, hal-hal yang berbeda selama ini saya tidak bisa membicarakan itu karena itu suatu hal yang ilegal harus hati-hati karena FIFA aware terhadap itu,” ujar Sekretaris Jendereal PSSI, Ratu Tisha, kepada pewarta di Jakarta, Kamis (21/12).

Tisha juga mengingatkan agar TMS itu tidak dipublikasikan sembarangan. Sebab, TMS bersifat rahasia dan siapapun yang menyebarkan TMS adalah tindakan ilegal.

“Jadi, TMS itu tidak menggambarkan keanggotaan. Yang kedua, informasi TMS merupakan satu hal yang konfidensial yang seharusnya tidak dibicarakan ke publik apalagi mempublikasikannya,” dia menuturkan.

“FIFA mengategorikan itu sebagai suatu tindakan yang ilegal oleh siapapun oknumnya, dan federasi berfungsi untuk menjaga serta memproteksi integrity dari confidentiality suatu data. Jadi selayaknya hal itu tidak dibicarakan di ruang publik,” Tisha menjelaskan.

(ads/fem)


NO COMMENTS