Magelang – Suporter PSS Sleman dan pendukung PPSM Magelang menandatangani kesepakatan damai. Hal itu ditempuh agar gesekan kedua belah pihak di bulan ini segera usai.

Penandatanganan surat kesepakatan damai itu dilakukan perwakilan pendukung PSS dan PPSM di Pendopo Pengabdian, Kota Magelang dengan disaksikan sejumlah pihak, Jumat (26/5/2017).

Kesepakatan itu sendiri merupakan buntut dari terjadinya gesekan di Kota Magelang beberapa waktu lalu yang menimbulkan keresahan warga.
Saat itu, Senin (15/5/2017) dini hari, rombongan suporter PSS yang hendak kembali ke Sleman usai menyaksikan pertandingan di Batang, sempat terlibat gesekan dengan warga di kawasan Karanggading, Kecamatan Magelang Selatan. Meski tidak sampai menimbulkan korban jiwa, perihal itu mengakibatkan kerugian bagi kedua belah pihak.

Kemudian Rabu (17/5/2017) pagi, ribuan suporter PSS yang akan menuju ke Jepara tiba-tiba turun dari kendaraannya masing-masing dan berjalan kaki sembari mengacungkan persenjataan di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Magelang. Aksi itu tidak sampai memicu bentrok, namun sempat membuat warga resah.

Adapun dalam penandatanganan kesepakatan damai, beberapa pihak yang tampak hadir diantaranya Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito, Bupati Sleman Sri Purnomo, Kapolres Magelang Kota AKBP Hari Purnomo, Kapolres Sleman AKBP Burkan Rudy Satria, Dandim 0705/Magelang Letkol Inf Hendra Purwanasari, serta manajer dua klub Liga 2 Indonesia tersebut.

“Permasalahan yang sempat terjadi harus segera dicari jalan keluar dan pemecahan damai sehingga tidak sampai memicu konflik-konflik susulan,” ujar Kapolres Magelang Kota, AKBP Hari Purnomo.

Menurutnya, selisih paham yang sempat terjadi antara suporter PSS dan warga, yang di dalamnya terdapat suporter PPSM, diduga dikarenakan oleh pihak ketiga. Kemudian salah satu kubu terprovokasi dan terjadilah konflik.

“Ada provokator yang ingin membuat warga Sleman dan Magelang ini bentrok, masyarakat harus waspada,” imbau Hari.

Dalam surat yang ditandatangi perwakilan suporter PPSM Sakti Magelang Wulan Wibowo dengan perwakilan supoter PSS Sleman Zulfikar, terdapat delapan poin yang disepakati.

Salah satunya, kedua belah pihak sepakat saling memaafkan dan menyelesaikan permasalahan ini secara damai dan kekeluargaan serta kedua pihak bersepakat untuk tidak mengajukan tuntutan hukum.

Kemudian kedua belah pihak berharap permasalahan ini merupakan yang pertama dan yang terakhir. Kedua belah pihak tidak saling mengedepankan ego masing-masing dan berjanji tidak terjadi selisih paham di kemudian hari.

Namun demikian, jika nantinya di kemudian hari setelah dilakukan penandatangan kesepakatan damai terjadi perselisihan paham, kepolisian akan mengambil tindakan tegas.

“Kedua belah pihak juga sepakat memberi pemahaman kepada anggota kelompok atau komunitasnya, secara langsung, atau melalui media sosial, untuk sama-sama menghormati dan menjunjung tinggi hasil kesepakatan damai ini,” terang Hari.

Sementara, Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito menyambut baik kesepakatan damai yang akhirnya tercapai tersebut. Ia pun berharap, kedua belah pihak bisa saling memaafkan dan benar-benar menerima hasil yang sudah disepakati.

Senada, Bupati Sleman, Sri Purnomo juga mengaku lega setelah menyaksikan kubu PSS dan PPSM saling berjabat tangan. Dikatakannya, masyarakat Sleman dan Magelang, terutama suporter sepakbolanya, yang selama ini hidup rukun, jangan sampai terusik sebuah perselisihan.

Terpisah, Manajer PPSM Magelang Sallafudin menegaskan bahwa sebelum konflik ini terjadi, sama sekali tak ada permasalahan antara suporter PPSM, dengan para pendukung PSS, baik yang tergabung dalam komunitas Slemania, atau Brigata Curva Sud (BCS).

Namun, dengan ditandatanganinya surat kesepakatan damai oleh kedua belah pihak ini, ia menganggap permasalahan sudah selesai. Kini, lanjutnya, yang harus diwaspadai adalah ulah pihak ketiga, yang dikhawatirkan bisa merusak hubungan yang telah beranjak harmonis. Untuk itu, ia menuntut kesigapan dari aparat keamanan dalam melakukan antisipasi.

“Misalnya, kalau di kemudian hari suporter PSS akan lewat Magelang lagi, alangkah baiknya bisa menjalin koordinasi dengan suporter PPSM dan kepolisian, supaya tidak terjadi kesalahpahaman apapun, yang berujung konflik,” jelasnya.

Adapun Manajer PSS Sleman, Arif Yuliwibowo, meyakini jika hubungan antara suporter PSS dan PPSM selama ini akur. Ia pun berharap kesepakatan damai ini, bisa membuat hubungan antara kedua kubu menjadi lebih baik.

(cas/mfi)


NO COMMENTS