Jakarta – PSSI menegaskan komitmen untuk terus membenahi manajemen pertandingan, terkait dengan insiden meninggalnya seorang suporter akibat terkena petasan.

Pertandingan uji coba timnas Indonesia versus Fiji di Stadion Patriot Bekasi akhir pekan lalu menelan korban jiwa setelah seorang suporter bernama Catur Yuliantono (33 tahun) meninggal lantaran terkena petasan. Polisi sudah menahan tersangka pelempar petasan.

Sekjen PSSI Ratu Tisha menyampaikan apresiasinya kepada pihak kepolisian, yang dengan cepat sudah langsung melakukan olah TKP bersama panpel PSSI sampai akhirnya bisa menjaring pelaku.

“Semoga ke depannya sinergi antara kepolisian dan pengamanan internal bisa ditingkatkan untuk sepakbola kita yang lebih baik,” katanya di kantor PSSI, Kuningan, Selasa (5/9/2017).

Sehubungan dengan itu, Tisha juga membeberkan usaha-usaha PSSI dalam melakukan pengamanan sebuah pertandingan. Ia menegaskan perihal nahas tersebut akan jadi pelajaran penting untuk terus berbenah.

“Dari PSSI, area football security kemarin merupakan trial pertama yang kita coba 130 personel terlatih. Kita tempatkan di beragam titik. Tapi layaknya pertandingan sepakbola, ada hal-hal tidak terduga yang akhirnya terjadi,” ucap Tisha.

“Saya ingin yakinkan kepada semua bahwa PSSI on the right track. Bukan berarti caranya salah, atau apanya kurang. Segala perbaikan akan terus kita lakukan. Kerja sama dengan AFC, pemerintah dengan infrastruktur. Kami mohon dukungannya karena security tidak bisa apa-apa tanpa tanpa infrastruktur yang baik dan ke depannya kita akan pastikan bahwa manajemen pertandingan kita kelola dengan lebih profesional lagi. PSSI ingin kasus ini closed karena banyak agenda ke depan. Ada tiga agenda penting yang akan terjadi di Indonesia,” tuturnya.

Bicara langkah konkret dalam mewujudkan manajemen lebih baik, PSSI di antaranya akan melakukan jemput bola dengan memberikan edukasi kepada para suporter mengenai cara positif memberikan dukungan untuk tim kesayangan.

“Mau dibikin seketat apapun flare petasan bakal masuk masuk juga. Itu yang kami bicarakan bersama dengan pihak kepolisian. PSSI itu punya football security sendiri tapi PSSI tidak bisa bekerja sendiri,” kata Tisha.

“Yang kedua kami akan melakukan edukasi road show, tapi hasilnya itu tidak bisa besok. Kami harus bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk menunjukkan perilaku yang baik bagaimana menjadi seorang suporter. Karena ini ke depannya bakal menjadi perhatian special bagi komunitas and suporter kami untuk ngobrol dengan pemerintah dalam hal ini pendidikan.”

“Kontroversi ini sebuah terjadi pada insiden sebelum-sebelumnya. Untuk menjaga sepakbola Indonesia ini harus ada peran serta masing masing, seperti pemerintah, PSSI, suporter,” ujarnya.

(ads/krs)

NO COMMENTS